Perkembangan Artificial Intelligence (AI) semakin membawa perubahan besar bagi industri teknologi Indonesia. Teknologi yang sebelumnya lebih banyak dikenal dan digunakan oleh kalangan tertentu kini semakin mudah diakses masyarakat luas, termasuk untuk mendukung berbagai aktivitas profesional dan operasional bisnis.
Namun, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, muncul pertanyaan mengenai bagaimana perusahaan perlu beradaptasi. Apakah bisnis harus terus mengadopsi teknologi terbaru? Benarkah AI akan menggantikan pekerjaan manusia? Dan keterampilan apa yang perlu dikembangkan agar tenaga kerja tetap relevan di era AI?
Dalam episode Smart ConneXion, KPSG menghadirkan Adriansyah Adnan, Chief Technology Officer (CTO) Anabatic Technologies, untuk membahas perubahan lanskap industri teknologi Indonesia, pentingnya integrasi teknologi dalam bisnis, serta dampak AI terhadap pekerjaan dan peran manusia.
Sebagai profesional yang telah berkecimpung di industri teknologi selama lebih dari tiga dekade dan bergabung dengan Anabatic Technologies sejak awal berdirinya pada 2002, Adriansyah membagikan perspektif mengenai bagaimana AI mengubah kebutuhan bisnis sekaligus menciptakan tantangan dan peluang baru bagi tenaga kerja.
Perkembangan Industri Teknologi Indonesia: Dari Digitalisasi hingga AI
Industri teknologi terus mengalami perubahan mengikuti perkembangan inovasi dan kebutuhan masyarakat. Menurut Adriansyah, perubahan besar dalam teknologi umumnya berlangsung melalui siklus yang cukup panjang, sekitar 10 hingga 15 tahun. Namun, dalam lima hingga enam tahun terakhir, perkembangan teknologi di Indonesia menunjukkan percepatan yang luar biasa.
Perubahan tersebut mulai terlihat ketika pandemi COVID-19 mendorong berbagai sektor untuk mempercepat implementasi sistem digital. Aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara konvensional beralih ke platform digital, seiring meningkatnya penggunaan e-commerce, layanan keuangan digital, dan transaksi melalui perangkat mobile.
Periode ini juga diwarnai oleh pertumbuhan perusahaan teknologi, termasuk startup dan fintech, yang mengutamakan ekspansi bisnis serta peningkatan jumlah pengguna.
Namun, setelah pandemi, industri memasuki fase koreksi pada 2022–2024. Model pertumbuhan yang sebelumnya berorientasi pada ekspansi agresif mulai menghadapi tantangan keberlanjutan bisnis. Fokus perusahaan pun bergeser dari sekadar meningkatkan jumlah pengguna menuju kemampuan menghasilkan keuntungan.
Adriansyah membandingkan fenomena ini dengan koreksi industri teknologi pada era dot-com bubble di awal 2000-an, ketika pertumbuhan bisnis berbasis teknologi tidak selalu diikuti oleh fundamental bisnis yang berkelanjutan.
Memasuki 2024, perkembangan AI menjadi salah satu perubahan paling menonjol dalam lanskap teknologi.
Meskipun konsep dan pengembangan AI telah dikenal sejak lama, kemunculan teknologi berbasis Large Language Model (LLM) membuat AI semakin populer karena masyarakat dapat mengakses informasi dan menggunakan berbagai kemampuan teknologi tersebut secara lebih mudah.
AI yang sebelumnya identik dengan kebutuhan teknis dan kalangan profesional tertentu kini menjadi teknologi yang digunakan oleh berbagai kelompok masyarakat.
Fenomena ini menunjukkan bahwa perkembangan industri teknologi tidak hanya ditentukan oleh kemunculan inovasi baru, tetapi juga oleh bagaimana teknologi tersebut dapat diakses dan dimanfaatkan secara luas.
Integrasi Teknologi Lebih Penting daripada Sekadar Mengadopsi Teknologi Terbaru
Seiring dengan pesatnya perkembangan AI, banyak perusahaan mulai mempertimbangkan investasi pada teknologi baru untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi operasional.
Namun, apakah menggunakan teknologi terbaru selalu menjadi pilihan terbaik?
Menurut Adriansyah, kemampuan mengintegrasikan teknologi dengan sistem dan proses bisnis yang sudah berjalan justru lebih penting dibandingkan sekadar mengadopsi inovasi terbaru.
Teknologi baru yang tidak dimanfaatkan secara optimal berisiko hanya menjadi sebuah sistem demo yang mahal, tanpa memberikan dampak signifikan terhadap operasional perusahaan.
Hal ini terutama relevan dalam implementasi AI, mengingat teknologi tersebut sangat bergantung pada kualitas dan ketersediaan data.
Agar AI dapat menghasilkan informasi yang bermanfaat, perusahaan membutuhkan data yang lengkap, akurat, konsisten, dan terintegrasi dari berbagai sistem operasional.
Tanpa integrasi yang memadai, informasi dapat tersebar pada berbagai sistem dan sulit dimanfaatkan secara menyeluruh. Akibatnya, kemampuan AI untuk mendukung proses bisnis juga menjadi terbatas.
Sebaliknya, ketika perusahaan memiliki data yang terintegrasi dan berkualitas, teknologi dapat membantu mengolah informasi menjadi insight yang lebih relevan untuk mendukung aktivitas bisnis.
Dalam konteks ini, penggunaan teknologi terbaru bukanlah satu-satunya faktor penentu. Sistem yang sudah ada tetap dapat memberikan manfaat apabila mampu terhubung dan mendukung kebutuhan operasional perusahaan secara efektif.
Perspektif tersebut menjadi pengingat bahwa transformasi digital tidak selalu berarti mengganti seluruh infrastruktur teknologi. Perusahaan perlu terlebih dahulu memahami bagaimana sistem, data, dan proses bisnis dapat bekerja secara terintegrasi sebelum menambahkan kemampuan teknologi baru.
Apakah AI Benar-Benar Akan Menggantikan Pekerjaan Manusia?
Selain mengubah lanskap industri, perkembangan AI juga menghadirkan kekhawatiran mengenai masa depan pekerjaan.
Kemampuan AI untuk menyelesaikan berbagai aktivitas dalam waktu singkat menimbulkan pertanyaan apakah teknologi ini akan mengambil alih peran manusia di lingkungan kerja.
Menanggapi hal tersebut, Adriansyah menjelaskan bahwa jawabannya tidak sepenuhnya sederhana.
AI pada dasarnya menggantikan tugas, bukan secara otomatis menggantikan keseluruhan peran manusia dalam suatu pekerjaan.
Aktivitas yang bersifat rutin, berulang, dan memiliki pola yang jelas menjadi lebih mudah diotomatisasi menggunakan AI. Hal ini memungkinkan perusahaan mempercepat pekerjaan dan meningkatkan efisiensi dalam berbagai proses operasional.
Namun, dampak otomatisasi terhadap tenaga kerja tetap perlu diperhatikan.
Salah satu kelompok yang menghadapi tantangan cukup besar adalah pekerja pada level pemula atau junior. Banyak aktivitas yang umumnya diberikan kepada tenaga kerja junior merupakan tugas-tugas yang relatif lebih mudah diotomatisasi.
Kondisi tersebut memunculkan tantangan jangka panjang bagi pengembangan sumber daya manusia.
Apabila perusahaan mengurangi kesempatan bagi tenaga kerja junior untuk memperoleh pengalaman dan mengembangkan keterampilan, organisasi dapat menghadapi kesulitan dalam menyiapkan tenaga profesional yang lebih senior pada masa mendatang.
Oleh karena itu, pengembangan talenta tetap menjadi hal penting. Perusahaan perlu memberikan kesempatan kepada tenaga kerja junior untuk mempelajari keterampilan baru yang relevan dengan perubahan teknologi.
Adriansyah juga menekankan bahwa tantangan di era AI bukan hanya kemungkinan manusia digantikan oleh teknologi, tetapi juga persaingan dengan individu lain yang mampu menggunakan AI secara lebih tepat dan efektif.
Dengan demikian, kemampuan beradaptasi dan memanfaatkan AI menjadi semakin penting agar tenaga kerja dapat terus memberikan kontribusi di tengah perubahan kebutuhan industri.
Keterampilan yang Dibutuhkan Manusia di Era AI
Meningkatnya penggunaan AI turut mengubah jenis keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.
Salah satu keterampilan yang semakin populer adalah prompt engineering, yaitu kemampuan menyusun instruksi agar sistem AI dapat menghasilkan respons sesuai kebutuhan pengguna.
Namun, menurut Adriansyah, kemampuan menggunakan prompt saja belum cukup untuk memastikan hasil AI dapat dimanfaatkan secara optimal.
Terdapat beberapa kompetensi yang semakin penting untuk dikembangkan.
- Problem Framing: Kemampuan Merumuskan Masalah dengan Tepat
Pengguna AI dapat memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan serupa, tetapi memperoleh hasil yang berbeda.
Hal ini tidak selalu disebabkan oleh perbedaan kemampuan teknologi, melainkan juga oleh cara pengguna menjelaskan permasalahan dan menyusun instruksi.
Karena itu, problem framing menjadi keterampilan penting dalam penggunaan AI.
Kemampuan ini mencakup cara memahami konteks, mengidentifikasi kebutuhan, dan merumuskan persoalan secara jelas sebelum meminta bantuan teknologi.
Semakin baik seseorang memahami masalah yang ingin diselesaikan, semakin besar peluang AI untuk memberikan respons yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan.
- Critical Thinking dan Judgment: Memastikan Hasil AI Dapat Dipercaya
Meskipun AI mampu menghasilkan jawaban dengan cepat, hasil yang diberikan tidak selalu akurat.
Teknologi berbasis LLM memiliki risiko menghasilkan informasi yang tampak meyakinkan, tetapi sebenarnya tidak tepat. Fenomena ini dikenal sebagai AI hallucination.
Oleh karena itu, manusia tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis dan melakukan penilaian terhadap informasi yang dihasilkan AI.
Critical thinking dan judgment memungkinkan pengguna mengevaluasi apakah sebuah jawaban benar, sesuai konteks, dan layak digunakan dalam pekerjaan.
Kemampuan melakukan verifikasi menjadi semakin penting, khususnya ketika informasi dari AI digunakan sebagai bagian dari proses analisis atau pengambilan keputusan bisnis.
- Domain Expertise: Memahami Bidang Pekerjaan secara Mendalam
Selain kemampuan berpikir kritis, pengguna AI juga perlu memiliki pemahaman yang kuat terhadap bidang pekerjaannya.
Menurut Adriansyah, domain expertise tetap menjadi kompetensi penting karena seseorang tidak dapat sepenuhnya mengevaluasi kualitas hasil AI tanpa memahami konteks pekerjaan yang sedang dilakukan.
Sebagai contoh, profesional yang menggunakan AI untuk membantu analisis bisnis tetap perlu memahami proses, kebutuhan, dan karakteristik industri agar dapat menilai apakah informasi yang dihasilkan relevan.
AI dapat membantu mempercepat proses kerja, tetapi pemahaman manusia tetap dibutuhkan untuk memastikan teknologi digunakan secara tepat.
- Accountability: Tetap Bertanggung Jawab atas Hasil AI
Salah satu aspek yang juga ditekankan Adriansyah adalah pentingnya akuntabilitas dalam penggunaan AI.
Teknologi dapat membantu manusia menyelesaikan pekerjaan dengan lebih cepat dan menghasilkan berbagai rekomendasi. Namun, ketika terjadi kesalahan, tanggung jawab tidak dapat sepenuhnya dialihkan kepada AI.
Individu yang menggunakan AI tetap bertanggung jawab terhadap hasil pekerjaan dan keputusan yang dibuat dengan bantuan teknologi tersebut.
Karena itu, accountability menjadi salah satu kompetensi mendasar dalam penggunaan AI secara profesional.
Pengguna tidak hanya perlu mengetahui cara memanfaatkan AI, tetapi juga memahami konsekuensi dari hasil yang digunakan dan memastikan bahwa setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan.
Kolaborasi Manusia dan AI: Memperkuat Kemampuan, Bukan Sekadar Menggantikan Pekerjaan
Perkembangan AI memberikan peluang bagi perusahaan untuk mempercepat proses kerja dan meningkatkan produktivitas. Namun, manfaat tersebut akan lebih optimal apabila AI diposisikan sebagai teknologi yang mendukung kemampuan manusia.
Sebagaimana dijelaskan Adriansyah, AI pada awalnya berperan sebagai alat bantu yang memungkinkan manusia menyelesaikan berbagai tugas secara lebih efisien.
Dalam penerapannya, AI dapat membantu mengolah informasi, menyusun materi, serta mendukung pekerjaan yang memiliki aktivitas berulang.
Sementara itu, manusia tetap berperan dalam memahami permasalahan, memberikan instruksi yang tepat, mengevaluasi hasil, dan memastikan setiap keputusan dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam konteks customer experience, misalnya, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu menangani pertanyaan rutin dan menyediakan informasi yang dibutuhkan dalam proses pelayanan. Di sisi lain, manusia tetap berperan untuk memvalidasi informasi, memahami kebutuhan pelanggan yang lebih kompleks, dan menentukan langkah penyelesaian yang sesuai.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa nilai AI bukan hanya terletak pada kemampuannya melakukan otomatisasi, melainkan juga pada bagaimana teknologi dapat meningkatkan efektivitas pekerjaan manusia.
Oleh karena itu, organisasi perlu membangun lingkungan kerja yang mendorong pengembangan keterampilan sekaligus pemanfaatan teknologi secara tepat.
Masa Depan Industri Teknologi Indonesia Ditentukan oleh Kesiapan Manusia dan Bisnis
Perkembangan AI menandai fase baru dalam perjalanan industri teknologi Indonesia. Teknologi semakin mudah diakses, kemampuan otomatisasi terus berkembang, dan perusahaan memiliki lebih banyak peluang untuk meningkatkan efisiensi operasional.
Namun, keberhasilan pemanfaatan AI tidak hanya bergantung pada seberapa canggih teknologi yang digunakan.
Integrasi data yang berkualitas, pemahaman terhadap kebutuhan bisnis, serta kemampuan manusia dalam menggunakan dan mengevaluasi AI menjadi faktor penting untuk menciptakan manfaat yang nyata.
Dari pembahasan bersama Adriansyah Adnan dalam Smart ConneXion, terlihat bahwa kemajuan AI tidak serta-merta menghilangkan peran manusia, tetapi mendorong perubahan pada keterampilan, tanggung jawab, dan cara bekerja.
Perusahaan perlu beradaptasi dengan mengintegrasikan teknologi secara tepat, sementara tenaga kerja perlu terus meningkatkan kompetensi agar mampu memanfaatkan AI sebagai pendukung produktivitas.
Pada akhirnya, masa depan industri teknologi Indonesia bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat mengadopsi AI, melainkan siapa yang mampu menggunakannya secara efektif, kritis, dan bertanggung jawab.
Simak pembahasan selengkapnya dalam podcast Smart ConneXion bersama Adriansyah Adnan, CTO Anabatic Technologies, untuk mendapatkan perspektif mengenai perkembangan industri teknologi Indonesia dan perubahan peran manusia di era AI.