Skema Kerja Fleksibel dan Dampaknya Terhadap Ketidakhadiran Karyawan

Skema Kerja Fleksibel dan Dampaknya Terhadap Ketidakhadiran Karyawan

Sistem kerja fleksibel menjadi semakin umum saat ini, memberikan karyawan Anda lebih banyak fleksibilitas dalam memilih di mana, kapan dan bagaimana mereka bekerja. Ada tiga bentuk pengaturan kerja fleksibel yang sering diterapkan oleh perusahaan, yaitu lokasi fleksibel, waktu fleksibel dan fleksibel. jadwal.

Contoh kerja fleksibel adalah bekerja dari rumah, bekerja jarak jauh atau telecommuting, kerja hybrid, berbagi pekerjaan dan jam kerja fleksibel (flextime). Kebijakan jam kerja yang fleksibel menawarkan keuntungan kepada karyawan untuk bekerja di luar jam kerja tradisional perusahaan, yaitu dari jam 9 pagi sampai jam 5 sore.

Opsi ini semakin populer, karena selain berdampak pada gaya hidup karyawan yang lebih seimbang, dari sisi operasional kantor juga memiliki banyak keuntungan.

Salah satunya, kerja yang fleksibel dapat membuat perusahaan Anda lebih hemat biaya untuk menyediakan fasilitas kantor seperti meja dan kursi kantor, tagihan listrik, dan alokasi tunjangan transportasi, karena karyawan tidak harus pergi ke kantor setiap hari. Selain itu, kesehatan karyawan Anda akan meningkat, sehingga biaya penggantian kesehatan juga dapat dihemat dan dialokasikan untuk hal lain.

Dari perspektif psikologis, percaya atau tidak, banyak manajer kantor bersaksi bahwa sistem kerja yang fleksibel menekan konflik terbuka antara rekan kerja.

Sebuah survei terbaru dari Gartner menemukan bahwa 43 persen pekerja digital mengatakan bahwa jam kerja yang fleksibel membantu mereka mencapai produktivitas yang lebih besar. Sebab, karyawan mendapatkan kebebasan untuk bekerja dengan cara yang paling produktif bagi mereka. Peningkatan kesejahteraan karyawan ini akan berdampak pada kepuasan kerja, peningkatan semangat kerja dan motivasi.

Karena jam kerja lebih fleksibel, kuantitas dan kualitas kerja karyawan ditentukan oleh gaji, tunjangan dan bonus yang mereka dapatkan. Namun, tentunya masih ada perhitungan yang diperhatikan dalam hal absensi dan kehadiran.

Dengan lingkungan kerja yang berubah, sistem absensi dari masa lalu tidak lagi relevan dan harus diperbarui secara otomatis mengikuti perkembangan situasi.

Dilansir dari Brookings, generasi milenial diperkirakan akan menjadi 75 persen dari angkatan kerja global pada tahun 2025. Pekerjaan yang fleksibel penting bagi calon karyawan milenial, karena mereka tidak ingin mengikat pencapaian mereka dengan kehadiran fisik untuk menyelesaikan pekerjaan.

Penggunaan teknologi yang tepat untuk mengukur kehadiran karyawan sangat dibutuhkan. Dalam menerapkan kebijakan kerja yang fleksibel, tentunya Anda tetap perlu ikut andil dalam mengontrol dan memantau karyawan, agar produktivitasnya selalu terjaga, bahkan meningkat. Bagaimana melakukannya dari jarak jauh?

Pastikan sistem absensi Anda memudahkan untuk mencatat kehadiran karyawan, memantau produktivitas waktu kerja karyawan, berbagi tugas dari jarak jauh dan memantau aktivitas kunjungan tim lapangan Anda secara praktis dalam satu platform.

Metode ini sering dijuluki "Flexi-hour Attendance" - apakah Anda siap menerapkannya di organisasi Anda? Konsultasikan kebutuhan unik organisasi Anda dengan perusahaan outsourcing KPSG, yang siap menciptakan sistem absensi terbaik untuk Anda!

Baca Juga: 

1. Pemanfaatan Teknologi Untuk Tren Kerja Fleksibel, Bagaimana Cara Membuatnya Sukses?

2. Cegah Tenaga Kerja Jarak Jauh Anda Terputus