Bangun Keterlibatan Karyawan yang Lebih Baik untuk 2022

Setelah Great Resignation terjadi secara global pada tahun sebelumnya dan menjadi fenomena SDM tersendiri, kini kami menyadari pentingnya employee engagement untuk menjaga tingkat retensi tetap baik.

Ya, mempertahankan karyawan Anda jelas lebih baik daripada selalu mendapatkan yang baru. Tapi ingat, kita tidak bisa mempertahankan karyawan yang tidak terlibat sejak awal.

Pertama-tama, penting bagi kami sebagai HR strategis untuk membedakan antara yang terlibat dan berkomitmen. Karyawan yang berkomitmen mungkin telah membentuk ikatan emosional dengan organisasi Anda, mereka mungkin secara terbuka bangga berafiliasi dengan merek Anda. Tapi, kita harus membidik keterikatan karyawan, karena ini adalah fase di mana kontribusi maksimal bagi perusahaan dan kepuasan maksimal bagi karyawan memenuhi keseimbangannya. Untuk tingkat retensi jangka panjang, ini jelas lebih berkelanjutan.

Secara strategis, untuk mencapainya, HR harus berpikir lebih dalam dari sekedar “menyenangkan” kaum milenial melalui kursi bean bag, makanan gratis, atau mengizinkan karyawan membawa hewan peliharaannya ke tempat kerja. Lebih fokus pada kegiatan yang benar-benar berdampak pada kapasitas pribadi karyawan, melalui alat dan sumber daya yang sangat mereka butuhkan untuk mengembangkan kariernya.

Seorang karyawan mungkin tertarik dengan berbagai gimmick yang Anda hadirkan sebagai HRD, mulai dari ayunan di kantor hingga kafetaria yang memukau. Namun seiring berjalannya waktu, karyawan Anda hanya akan ingat, apakah mereka merasa didukung dalam menjalankan pekerjaannya? Apakah kepemimpinan dalam organisasi ini benar-benar hadir dalam karir mereka sebagai mentor, bukan sebagai bos yang otoriter dan satu arah. Salah satu contoh pembekalan karyawan untuk pengembangan kapasitas dapat diwujudkan dengan menyediakan anggaran untuk berlangganan audiobook, majalah, atau membeli buku.

Mereka akan merasa lebih puas dengan kehidupan profesional mereka, karena mereka menyaksikan diri mereka sendiri menciptakan nilai-nilai nyata bagi organisasi. Dengan demikian, keterlibatan karyawan yang sebenarnya yang penting.