Screening Pra-Kerja: Aspek Gender

Diskusi seputar gender dalam dunia sumber daya manusia terkadang memicu perdebatan - misalnya, diskusi seputar kesenjangan gaji antara kedua gender. Masih dalam semangat Hari Kartini, kita patut bersyukur atas laporan ILO (International Labour Organization) bahwa pencapaian pendidikan dan pengalaman kerja perempuan di seluruh dunia terus meningkat, kesenjangan gaji semakin mengecil di beberapa tempat.

Sebagai perekrut di era Revolusi Industri 4.0, elemen gender tidak dapat dipisahkan - tidak dipandang sebagai diskriminasi, tetapi sebagai pengakuan atas keunikan karakteristik masing-masing gender. Salah satu contoh paling umum di Indonesia terjadi saat kita merekrut staf untuk contact center, misalnya. Bekerja 24 jam dalam shift, wajar bagi perekrut untuk mempertimbangkan pria untuk shift malam dan wanita untuk shift siang.

Untuk penyaringan pra-kerja yang obyektif dan adil, pastikan metode perekrutan Anda bebas dari bias gender. ILO menyatakan bahwa meja yang biasanya dikerjakan oleh perempuan berisiko diabaikan atau dihargai kurang dari yang biasanya dilakukan oleh laki-laki. Inilah pola pikir yang harus kita hancurkan.

Mempromosikan kesetaraan gender di tempat kerja adalah inisiatif hebat yang sangat dihargai saat ini, terutama setelah gerakan #MeToo. Dengan memprioritaskannya, Anda menunjukkan kepada pemangku kepentingan Anda bahwa organisasi Anda relevan dengan dinamika sosial dunia dan selaras dengan nilai-nilai baik di luar sana.

Jika ragu, silakan berkonsultasi screening pra-kerja Anda dengan mitra MPHRO yang andal. Selama lebih dari 30 tahun, KPSG adalah nama yang dipercaya oleh klien baik perusahaan global maupun lokal yang beroperasi di Indonesia.